Tampilkan postingan dengan label Politik Daerah. Tampilkan semua postingan

10 Catatan Potensi Permasalahan di Pilkada Serentak


PILKADA.OR.ID - Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai ada 10 potensi permasalahan yang membayangi gelaran pilkada serentak. Permasalahan ini dinilai kerap terjadi bukan hanya pada pilkada.

Dalam catatan ICW, sepanjang 2010-2017 setidaknya terdapat 215 kepala daerah menjadi tersangka dalam kasus korupsi yang ditangani penegak hukum. Kasus itu sangat beragam mulai dari permainan anggaran proyek hingga suap penanganan perkara.

Terjadinya kasus korupsi itu menurut ICW tidak bisa dilepaskan dari kewenangan yang dimiliki kepala daerah. Kepala daerah disebut kerap mencari sumber pendanaan untuk kepentingannya sendiri.

"Sehingga demokrasi yang tumbuh kembang secara prosedural ini belum diikuti dengan demokrasi substansial," kata peneliti ICW Donal Fariz di kantornya, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018).

Berkaca dari pengalaman tersebut, Donal mengkhawatirkan permasalahan serupa dapat terjadi dalam kontestasi elektoral, yaitu pilkada serentak 2018, Pileg dan Pilpres 2019. 

Donal menilai memang tidak semua proses pilkada dibayangi oleh praktik politik uang. Tapi dia menganggap ada potensi atau ancaman korupsi serentak di balik pilkada ini.

"Apa yang kami tangkap dari rangkaian peristiwa demokrasi pasang surut tapi persoalannya nggak pasang surut. Persoalannya konstan," ujar Donal.

Karena itu, ICW memprediksi beberapa potensi permsalahan yang mungkin terjadi di Pilkada 2018. Berikut ini 10 catatan tersebut:

1. Jual beli pencalonan (candiday buying) antara kandidat dan partai politik.

2. Munculnya nama bermasalah (mantan narapidana atau tersanhka korupsi) dan calon dengan dinasti.

3. Munculnya calon tunggal (KPU pada 10 Januari 2018 mengumumkan terdapat 19 daerah dengan calon tunggal. Tiga dari empat kabupaten/kota yang akan menggelar Pilkada di Banten bahkan mempunyai calon tunggal).

4. Kampanye berbiaya tinggi akibat dinaikannya batasan sumbangan dana kampanye dan diizinkannya calon memberikan barang seharga maksimal Rp 25 ribu kepada pemilih.

5. Pengumpulan model ilegal (jual beli izin usaha, jual beli jabatan, suap proyek) dan politisasi program pemerintah (dana hibah, bantuan sosial, dana desa dan anggaran rawan lainnya) untuk kampanye.

6. Politisasi birokrasi dan pejabat negara, mulai dari birokrat, guru hingga institusi TNI/Polri.

7. Politik uang (jual beli suara pemilih).

8. Manipulasi laporan dana kampanye.

9. Suap kepada penyelenggara pemilu.

10. Korupsi untuk pengumpulan modal, jual beli perizinan, jual beli jabatan, hingga korupsi anggaran.

(knv/fdn)

Update KPU: 569 Pasangan Calon Terdaftar di Pilkada 2018


PILKADA.OR.ID - KPU kembali merilis rekapitulasi pendaftaran pasangan calon di 171 Pilkada 2018. Data terbaru, ada 569 pasangan calon yang terdaftar di KPU.

Komisioner KPU Ilham Saputra memberikan kabar terbaru soal rekapitulasi setelah pendaftaran pasangan calon pilkada serentak ditutup kemarin. Update itu per pukul 17.51 WIB hari ini, Kamis (11/1/2018).

Dari data yang disampaikan, ada tambahan pasangan calon dari yang sebelumnya disampaikan oleh Ketua KPU Arief Budiman. Siang tadi, dia menyebut ada 570 pasangan calon yang mendaftar ke KPU, tapi empat ditolak. Sore ini ada tambahan tiga pasangan.

Rekapitulasi terbaru KPU untuk 171 pilkada sebagai berikut:

Jumlah Daerah: 171 daerah (lengkap)
Jumlah pasangan calon mendaftar : 573 paslon

Rincian dukungan pasangan calon Parpol: 443
Paslon perseorangan: 130

Rincian Status
Diterima: 569
Ditolak: 4

Rincian Jenis Kelamin
a. Calon Kepala Daerah
Laki laki: 524
Perempuan: 49
b. Calon Wakil Kepala Daerah
Laki laki: 521
Perempuan: 52
c. Total 1146 calon
Laki laki: 1045
Perempuan: 101

Daerah dengan calon tunggal:
1. Kota Prabumulih, Sumsel (Pilwalkot)
2. Kabupaten Lebak, Banten (Pilbup)
3. Kabupaten Tangerang, Banten (Pilbup)
4. Kota Tangerang, (Pilwalkot)
5. Kabupaten Pasuruan, Jatim (Pilbup)
6. Kabupaten Karanganyar, Jateng (Pilbup)
7. Kabupaten Enrekang, Sulsel (Pilbub)
8. Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulut (Pilbup)
9. Kabupaten Tapin, Kalsel (Pilbup)
10. Kabupaten Puncak, Papua (Pilbup)
11. Kabuaten Mamasa, Sulbar (Pilbup)
12. Kabupaten Jayawijaya, Papua (Pilbup)
13. Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumut (Pilbup) 
(elz/tor)

Catat, Tak Ada Putaran Kedua di Pilkada Serentak 2018


PILKADA.OR.ID - Pilkada Serentak 2018 digelar di 171 wilayah, termasuk 17 pemilihan gubernur (pilgub). Pelaksanaan pilkada hanya satu putaran dan tidak ada pemungutan suara ulang terkait dengan perolehan suara.

Ketua KPU Arief Budiman menyebut hanya Provinsi DKI Jakarta yang memiliki aturan berbeda. Dalam aturan di Pilgub DKI, putaran kedua bisa terjadi apabila suara calon kepala daerah tidak di atas 50%. Hal tersebut tercantum dalam PKPU Nomor 6 Tahun 2016.

"(Pilkada 2018) satu putaran. UU sudah putuskan 1 putaran. Hanya DKI saja yang masih mengatur dua putaran," kata Arief di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Untuk calon Bupati atau Wali Kota, aturan ini termaktub dalam Pasal 107 ayat 1 UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada yang berbunyi:

Pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati serta pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai pasangan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati terpilih serta pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota terpilih.

Sedangkan aturan terkait pilgub tertuang dalam Pasal 109 ayat 1 yang berbunyi:

Pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur terpilih.

Jadi puncak acara Pilkada Serentak 2018 adalah 27 Juni mendatang saat pencoblosan. Yang mendapat suara terbanyak, dialah yang menjadi pemenang.

"Asal itu (suara) yang paling besar," sebut Arief. 
(dkp/elz)

3 Jenderal ini berhasrat ingin jadi gubernur di pilkada 2018


Pilkada serentak 2018 akan diramaikan dengan turunnya para jenderal ke panggung politik. Mereka mendaftar ke beberapa partai politik untuk mengikuti proses penjaringan calon gubernur.

Kurang dari setahun jelang pelaksanaan pilkada serentak yang akan dilaksanakan di 171 wilayah, masing-masing partai membuka pendaftaran bagi mereka yang ingin menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah. Tahapan ini akan berlangsung hingga partai memutuskan siapa pasangan calon yang akan diusung, termasuk berkoalisi dengan siapa.

Sejauh ini, tiga jenderal sudah resmi mendaftar melalui partai politik. Siapa saja mereka? Berikut profilnya:

1. Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi

Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi didaftarkan sebagai bakal calon Gubernur Sumut ke Partai Hanura. Dia didaftarkan calon pasangannya, Musa Rajeckshah.

Musa Rajeckshah merupakan pengusaha muda di Medan. Pria yang akrab disapa Ijeck ini merupakan sepupu dari artis dan Raline Shah. Ijeck mendaftarkan Edy Rahmayadi dan dirinya ke kantor DPD Hanura Sumut, di Jalan Kapten Muslim, Kompleks Ruko Griya, Medan, Jumat (28/7). 

Kemudian pada 14 Agustus lalu, kuasa Edy, Ruslim Sembiring, bersama rombongannya mendatangi kantor DPD PDIP di Jalan Jamin Ginting, Medan untuk menyerahkan formulir pendaftaran. Sebelumnya, Edy juga telah mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon gubernur Sumut ke Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sumatera Utara, Partai NasDem, di Jalan Wolter Monginsidi, Kota Medan, Jumat (11/8) sore. Dia juga diwakili kuasanya, Ruslim Sembiring,

Saat ditanya soal langkah politiknya itu, Edy yang juga Ketua umum PSSI malah enggan berkomentar banyak. "Doain aja," ucap Edy langsung menghindar dari kejaran media.

Sementara Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menuturkan, Letjen Edy belum mengajukan izin terkait pencalonannya sebagai cagub Sumut. "Dia belum mengajukan (izin) ke saya kok. Sudah mendaftar boleh saja, saya juga daftar kan boleh saja. Enggak usah minta izin ke saya. (Contoh) Saya daftar di partai apa tidak masalah kok gitu," kata Panglima TNI.

2. Irjen Paulus Waterpauw



Dari kalangan polisi, Kapolda Sumatera Utara Irjen Paulus Waterpauw resmi mendaftarkan diri jadi bakal calon Gubenur Papua melalui DPD Partai Golkar Papua pada 12 Juni lalu.

Paulus Waterpauw merupakan putra daerah yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Wakapolda Papua. Paulus mengaku akan mengikuti mekanisme resmi di kepolisian jika dia telah resmi ditetapkan sebagai cagub.

"Belum dapat restu semua dari pimpinan. Yang penting kan semua mekanisme akan dijalani," ujar Paulus di tempat terpisah.

Selain mendaftar sebagai bakal cagub di Partai Golkar, Paulus juga mendaftarkan diri di tiga partai lain yakni PDIP, Gerindra, dan PKS.


3. Kapolda Kaltim Irjen Safaruddin



Kapolda Kalimantan Timur Irjen Safaruddin mengaku telah mendaftar untuk ikut penjaringan bakal calon gubernur Kaltim melalui PDIP. Dia mengaku siap mundur dari kepolisian jika diusung sebagai cagub.

"Jadi begini saya kan mendaftar di PDIP di Jakarta, dan saya sudah menjalani fit and proper test. Kita tunggu rekomendasinya PDIP," kata Safaruddin kepada wartawan di Samarinda, Selasa (15/8).

"Diterima atau tidak. Ini kan baru melamar," ujar Safaruddin.

Dia mengaku tidak ada dorongan dari pihak lain untuk maju dalam Pilgub Kaltim. Murni keinginan pribadinya setelah dua tahun bertugas di Kaltim.

"Kebetulan kan pemilihan Gubernur tahun depan ya. Saya terpanggil untuk itu. Kalau dulunya di bidang keamanan, nanti kan di bidang kesejahteraan masyarakat," terangnya.

Jika nantinya terpilih, pria kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan tahun 1960 itu, harus menanggung konsekuensi mundur dari kepolisian. "Aturannya kan begitu, ya harus (mundur). Kalau kita mau ya harus tinggal. Saya harus mengundurkan diri nanti, sebelum pendaftaran ditutup, kalau diberikan rekomendasi," jelasnya.

Keluarga Ratu Atut Kembali Maju di Pilkada 2018

Keluarga mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dipastikan kembali maju dalam pilkada serentak di Kota Serang. Kali ini yang diusung adalah Vera Nurlaela Jaman, istri dari Wali Kota Serang saat ini, Tubagus Haerul Jaman.

"Semoga pencalonannya akan lancar dan ada rekomendasi dari partai lain," ujar Vera, usai mendapatkan dukungan dari Partai PKB, saat ditemui di kantor DPW PKB Kota Serang, Banten, Rabu (27/09/2017).

Dalam helatan Pilkada Serentak 2018 di Ibu Kota Provinsi Banten itu, Vera didukung oleh tiga partai, yakni Golkar, PKB, dan PKPI dengan total 12 kursi di DPRD Kota Serang.

"Dengan siapa pun (wakilnya), yang penting semua partai koalisi mendukung. Tunggu saja, nanti juga ada, sedang dikaji," jelas Vera.

Dengan jumlah kursi tersebut, istri dari adik tiri Ratu Atut Chosiyah itu dipastikan telah memenuhi syarat pencalonan di KPU, yang menyaratkan hanya sembilan kursi saja.

"Pertama karena dari awal visi misi, disitu suaranya terbanyak dari PAC (Pimpinan Anak Cabang) dan (pengurus) ranting," kata Wahyu Papat, Ketua DPW PKB Kota Serang di tempat yang sama. 

Dengan jargon 'Kota Serang Cantik', Wahyu Papat menjelaskan bahwa Vera belum memiliki cacat di dalam pemerintahan.

"Dia belum ada cacat lah, karena dia kan belum pernah di pemerintahan," terang dia.

Dinasti Politik Ratu Atut

Dinasti Ratu Atut memegang kuat kekuasaan di Tanah Jawara. Sebut saja Airin Rachmi Diani yang menjadi Wali Kota Tangerang Selatan, merupakan istri dari Wawan, adik Atut. 

Lalu ada Ratu Tatu Chasanah, adik kandung dari Ratu Atut. Lalu ada nama Andhika Hazrumy, anak pertama dari Ratu Atut yang kini menduduki kursi Wakil Gubernur Banten bersama Wahidin Halim. 
Ada juga nama Tanto Warsono Arban, merupakan menantu Ratu Atut yang menjabat sebagai Wakil Bupati Pandeglang. 

Sekadar diketahui, Tb Haerul Jaman, suami dari Vera Nurlaela, merupakan adik tiri dari Ratu Atut Chosiyah. Atut merupakan mantan Gubernur Banten yang kini menjadi pesakitan bersama adik kandungnya, Tb Haeri Wardhana alias Wawan.

Golkar Beri Sinyal Dukung Khofifah Maju Pilkada Jatim 2018

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar, Idrus Marham, mengungkapkan bahwa Ketua Umum DPP Partai Golkar, Setya Novanto, bersama pimpinan Partai Golkar lainnya sudah melakukan pertemuan dengan Khofifah Indar Parawansa. Pertemuan membicarakan seputar keikusertaan Menteri Sosial tersebut dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim). 

"Beberapa hari lalu ketua umum (Setya Novanto) ya, kami dan beberapa orang kita ketemu dengan Khofifah. Tentu kita melakukan pembicaraan secara intensif tetapi tentu pada gillirannya akan kita umumkan," ujar Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/8/2017).


Idrus menilai, sebagai sinyal bentuk dukungan kepada Khofifah, Golkar sangat menghargai sosoknya dari segi kompetensi serta integritas yang dinilai sangat berkualitas. Golkar menilai tidak banyak sosok perempuan seperti Khofifah.

"Kita sangat menghargai Ibu Khofifah sebagai salah seorang srikandi atau perempuan. Tidak banyak yang seperti Khofifah dan karena itu kita sangat menghargai perjuangannya, kompetensinya, integritasnya dan semagant juangnya," tutur Idrus.

Kendati demikian, diakui Idrus, hingga saat ini Golkar belum menyatakan dukungan mereka secara resmi terhadap Khofifah. Pasalnya, hingga saat ini pihak Golkar dan Khofifah masih intens melakukan komunikasi politik. Sementara itu, Golkar juga masih menunggu respon final dari Khofifah sendiri.
"Bu Khofifah mengatakan bahwa pihaknya berterima kasih kepada Partai Golkar. Bu Khofifah berjanji akan melakukan komunikasi politik dengan partai-partai lain. Satu tiga hari ini kami minta bagaimana perkembangan dari Bu Khofifah sendiri," tandasnya.

Klaim Khofifah

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengklaim sudah mengantongi dukungan dari partai politik untuk maju di Pilkada Jawa Timur. Bahkan dia menyebut dukungan itu sudah cukup untuk mendaftar sebagai bakal calon gubernur.

Khofifah mengungkapkan silaturahmi ke beberapa partai politik, baik tingkat daerah maupun pusat, sudah dilakukan. Dia yakin bisa langsung mendaftarkan diri, bila melihat peta kursi DPRD Jawa Timur partai yang mendukungnya.

"Peta kursi di Jawa Timur sesuai dengan prasyarat seseorang untuk mencalonkan gubernur dan cawagub cukup sih, cukup untuk berangkat (mendaftar)," kata Khofifah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/8/2017).

Hanya saja, Ketua Umum Muslimat NU itu belum mau mengungkapkan partai mana saja yang sudah berkomunikasi intens dengannya. Suara NU di Jawa Timur kemungkinan juga terbelah, karena warga NU lain Saifullah Yusuf dikabarkan juga akan maju.

"Banyak-banyak. Jangan deh jangan disebut dulu. Aduh jangan sebut partai deh," imbuh Khofifah.

Ini 171 Daerah yang Gelar Pilkada Serentak 27 Juni 2018

KPU RI sudah menetapkan tanggal pencoblosan Pilkada Serentak 2018 yaitu pada tanggal 27 Juni 2018. Rencananya, ada 171 daerah yang mengikuti Pilkada 2018. Mana saja?

Tahapan Pilkada serentak 2018 akan dimulai 10 bulan sebelum hari pencoblosan. Itu berarti tahapan dimulai Agustus 2017.

Pilkada serentak tahun 2018 akan lebih besar daripada Pilkada sebelumnya. Sebanyak 171 daerah akan berpartisipasi pada ajang pemilihan kepala daerah tahun depan.

Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada di 2018. Beberapa provinsi di antaranya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Berikut 171 daerah yang mengikuti Pilkada 2018:

Provinsi
Sumatera Utara
Riau
Sumatera Selatan
Lampung
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Timur
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Papua
Maluku Utara

Total: 17 provinsi

Kota
Kota Serang
Kota Tangerang
Kota Bengkulu
Kota Gorontalo
Kota Jambi
Kota Bekasi
Kota Cirebon
Kota Sukabumi
Kota Bandung
Kota Banjar
Kota Bogor
Kota Tegal
Kota Malang
Kota Mojokerto
Kota Probolinggo
Kota Kediri
Kota Madiun
Kota Pontianak
Kota Palangkaraya
Kota Tarakan
Kota Pangkal Pinang
Kota Tanjung Pinang
Kota Tual
Kota Subulussalam
Kota Bima
Kota Palopo
Kota Parepare
Kota Makassar
Kota Bau-bau
Kota Kotamobagu
Kota Sawahlunto
Kota Padang Panjang
Kota Pariaman
Kota Padang
Kota Lubuklinggau
Kota Pagar Alam
Kota Prabumulih
Kota Palembang
Kota Padang Sidempuan

Total: 39 kota


Kabupaten
Kab Aceh Selatan
Kab Pidie Jaya
Kab Padang Lawas Utara
Kab Batu Bara
Kab Padang Lawas
Kab Langkat
Kab Deli Serdang
Kab Tapanuli Utara
Kab Dairi
Kab Indragiri Hilir
Kab Merangin
Kab Kerinci
Kab Muara Enim
Kab Empat Lawang
Kab Banyuasin
Kab Lahat
Kab Ogan Komering Ilir
Kab Tanggamus
Kab Lampung Utara
Kab Bangka
Kab Belitung
Kab Purwakarta
Kab Bandung Barat
Kab Sumedang
Kab Kuningan
Kab Majalengka
Kab Subang
Kab Bogor
Kab Garut
Kab Cirebon
Kab Ciamis
Kab Banyumas
Kab Temanggung
Kab Kudus
Kab Karanganyar
Kab Tegal
Kab Magelang
Kab Probolinggo
Kab Sampang
Kab Bangkalan
Kab Bojonegoro
Kab Nganjuk
Kab Pamekasan
Kab Tulungagung
Kab Pasuruan
Kab Magetan
Kab Madiun
Kab Lumajang
Kab Bondowoso
Kab Jombang
Kab Tangerang
Kab Lebak
Kab Gianyar
Kab Klungkung
Kab Lombok Timur
Kab Lombok Barat
Kab Sikka
Kab Sumba Tengah
Kab Nagekeo
Kab Rote Ndao
Kab Manggarai Timur
Kab Timor Tengah Selatan
Kab Alor
Kab Kupang
Kab Ende
Kab Sumba Barat Daya
Kab Kayong Utara
Kab Sanggau
Kab Kubu Raya
Kab Pontianak
Kab Kapuas
Kab Sukamara
Kab Lamandau
Kab Seruyan
Kab Katingan
Kab Pulang Pisau
Kab Murung Raya
Kab Barito Timur
Kab Barito Utara
Kab Gunung Mas
Kab Barito Kuala
Kab Tapin
Kab Hulu Sungai Selatan
Kab Tanah Laut
Kab Tabalong
Kab Panajam Pasut
Kab Minahasa
Kab Bolmong Utara
Kab Sitaro
Kab Minahasa Tenggara
Kab Kep Talaud
Kab Morowali
Kab Parigi Moutong
Kab Donggala
Kab Bone
Kab Sinjai
Kab Bantaeng
Kab Enrekang
Kab Sidereng Rappang
Kab Jeneponto
Kab Wajo 
Kab Luwu
Kab Pinrang
Kab Kolaka
Kab Gorontalo Utara
Kab Mamasa
Kab Polewali Mandar
Kab Maluku Tenggara
Kab Membramo Tengah
Kab Paniai
Kab Puncak
Kab Deiyai
Kab Jayawijaya
Kab Biak Numfor
Kab Mimika

Total: 115 kabupaten

Nomor Urut Calon Bupati Banjarnegara pada Pilkada 2017

PILKADA.OR.ID - Banjarnegara, Antara Jateng - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, telah menetapkan nomor urut pasangan calon bupati dan wakil bupati pada Pilkada tahun 2017.

"Sudah ditetapkan nomor urut dari tiga pasangan calon," kata Ketua KPU Banjarnegara Gugus Risdaryanto di Banjarnegara, Selasa.

Dia menjelaskan, penetapan nomor urut pasangan calon tersebut berdasarkan hasil pengundian yang telah dilakukan.

Dari hasil pengundian tersebut, pasangan Hadi Supeno dan Nur Heni Widayanti yang diusung Partai PKB, Nasdem, Gerindra, PKS mendapat nomor urut satu.

Pasangan Wahyu Kristianto dan Saeful Muzad yang diusung Partai PAN dan PDIP mendapat nomor urut dua.

Sementara pasangan Budhi Sarwono dan Syamsudin yang diusung Partai Golkar, PPP, Demokrat mendapat nomor urut tiga.

Gugus menjelaskan, penetapan nomor urut empat pasangan calon tersebut dapat digunakan sebagai alat sosialisasi, kampanye dan petunjuk dalam surat suara.

"Dengan demikian berarti kita sudah melalui tahap pencalonan bupati dan wakil bupati yang akan mengikuti Pilkada 2017 nanti," katanya.

Setelah penetapan pasangan calon bupati dan wakil bupati tersebut, tambah dia, juga telah dilakukan deklarasi kampanye damai.

"Tadi langsung deklarasi kampanye damai oleh para peserta Pilkada 2017," katanya.

KPU Banjarnegara, tambah dia, berharap para peserta sungguh-sungguh menerapkan kampanye damai dan santun pada Pilkada 2017.