Tampilkan postingan dengan label Strategi Pemenangan Pilkada. Tampilkan semua postingan

Inilah Alasan Hanura Usung RW-Irvan dan Amin-Saleh di Pilkada Riau 2017

PILKADA.OR.ID - Suara parlemen 4 kursi partai Hanura di parlemen DPRD Kota Pekanbaru diberikan bulat ke pasangan calon walikota Ramli Walid dan Irvan Herman. Hanura memberikan suaranya berdasarkan pertimbangan matang.

Hal itu ditegaskan oleh Sayed Junaidi Rizaldi sebagai tim Pilkada Nasional DPP Hanura. Menurutnya keputusan tersebut telah melalui pertimbangan survei yang dapat dipercaya.

Untuk Pilkada di kabupaten Kampar, DPP Hanura memberikan suaranya kepada pasangan Muhammada Amin dan Muhammad Saleh.

"Karena itu, partai memberikan dukungan kepada kedua kandidat tersebut. Kita yakin bisa memenangkan pemilihan. Karena selain mempunyai program yang bagus, kedua kandidat tersebut juga merakyat. Mereka tidak asing lagi di mata masyarakat," ujarnya.

Hanura dengan seluruh kader partai akan bersatu memenangkan kedua pasangan tersebut. Sebab, ini putusan partai, maka sudah jadi kewajiban bagi seluruh kader memenangkan kandidat yang diusung Hanura.

"Kita punya kader yang loyal dengan partai. Kalau pun ada kader yang tidak tunduk dengan putusan ini, akan kita tindak tegas. Akan disanksi sesuai AD/ART partai. Sanksi terberat bisa pemecatan," ujarnya.

Ia menanbahkan, bukti Hanura mempunyai kader yang solid bisa dilihat dari perolehan kursi saat Pemilu lalu. Dimana, di Pekanbaru Hanura memiliki 4 kursi dan di Kampar 5 kursi.

"Kekuatan ini akan diperkuat oleh partai koalisi. Kita optimis akan memenangkan pemilihan di Kampar dan Pekanbaru," tegas  ketua umum Nurani Rescue partai Hanura itu.

SUMBER :
http://www.forumriau.com/2016/09/inilah-alasan-hanura-usung-rw-irvan-dan.html?m=1

Strategi Pemenangan PILKADA (Part 1)

Citizen Reporter : Mulyanah Mulkin, Direktur PASAK (Pusat Studi Layanan Publik)
Spanduk-spanduk dan baliho berukuran raksasa sudah mulai memenuhi sudut-sudut jalan baik di desa maupun di kota. Wajah difoto tersebut mempunyai ekpresi yang sama yaitu tersenyum, tidak ada yang cemberut.  Saya yakin,  para ahli pembaca wajah dapat melihat mana senyum asli, senyum ikhlas dan senyum dipaksakan. Ibarat para SPG (Sales Promotion Girl) yang harus selalu tersenyum ketika menawarkan barang dagangannya kepada pembeli. Senyuman memang mampu menghipnotis…
Pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas tuntas mengenai senyuman, tapi lebih ke arah strategi pemenangan para kandidat untuk dapat meraih simpati pemilihnya.
Keinginan  untuk menjadi pemimpin adalah suatu hal yang sangat baik dan bernilai pahala apabila memang diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT atau Tuhan YME. Niatnya untuk membuat perubahan di masyarakat menjadi lebih sejahtera, lebih berpendidikan, bebas dari korupsi dan perubahan baik lainnya.Tapi bila awal mencalonkan diri sudah terbersit niat yang buruk misalnya untuk korupsi, menguasai proyek-proyek, dan hanya mensejahterakan keluarganya, maka tentunya dia sedang mengumpulkan dosa yang siap menggiringnya ke neraka. Perlu diingat baik oleh para kandidat bahwa tanggungjawab kita bukan hanya kepada masyarakat yang memilih tapi juga kepada Tuhan YME.
Setelah memiliki niat yang baik,  tentunya para calon dan tim sukses juga harus menyiapkan strategi perang agar dapat memenangkan pemilihan nanti. Jangan hanya keyakinan merasa sudah tenar dan banyak pendukung, lalu akhirnya berani maju mencalonkan diri. Selalu buat pertanyaan kunci sebelum menyusun strategi yaitu, Bagaimana Pemilih Nantinya Hanya Memilih Saya Bukan Lawan Saya ? Ada beberapa hal yang akan saya bahas mengenai strategi pemenangan PILKADA, yang akan saya bagi menjadi beberapa segmen yaitu:
  • SUMBER DAYA UTAMA (Manusia, Dana dan Waktu)
  • KANDIDAT DAN TIM SUKSES/TIM KAMPANYE
Akan dibahas mengenai Peran, tugas dan tanggungjawab dalam kampanye, bagaimana menjadi tim sukses kunci dan kemampuan para tim sukses memahami undang-undang dan peraturan terkait Pilkada

RISET POLITIK MEMPEROLEH INFORMASI YANG DIBUTUHKAN
Akan dibahas mengenai riset politik yang berfungsi sebagai “kapal pemandu” dalam Political Marketing.Tanpa informasi yang akurat, political marketing tidak dapat diterapkan dengan berhasil.
TARGET SUARA
Akan dibahas mengenai target perolehan suara (vote goal), mempertimbangkan situasi pemilihan, menentukan target demografi dan target geografis para pemilih.
ISU ATAU KEBIJAKAN PROGRAM
Akan dibahas mengenai penyusunan visi, misi dan program yang mampu meyakinkan pemilih bahwa anda adalah kandidat yang layak untuk dipilih.
Untuk tulisan saya yang pertama ini, akan membahas mengenai tiga sumber daya utama yang harus disiapkan oleh para kandidat untuk memenangkan pertarungan. Apa saja ketiga sumber tersebut? Berikut penjelasannya secara rinci yang akan saya bahas satu persatu.
1.     SUMBER DAYA MANUSIA
Kandidat tidak mungkin memenangkan PILKADA hanya berdua pasangan. Dibutuhkan banyak dukungan orang lain untuk mencapai kemenangan. SDM merupakan unsur strategis.Dibutuhkan orang dengan jumlah dan kualitas tertentu.Pastikan memilih Tim Sukses yang tepat:
  • Pastikan jumlah SDM yang dibutuhkan di setiap jenjang dan lini hingga ke titik TPS.
  • Pastikan kualifikasi SDM yang dibutuhkan pada setiap jenjang.
  • Pastikan SDM tersebut benar-benar berniat membantu.
  • Pastikan SDM berasal dari asal usul yang jelas, jangan sampai orang2 dari “Lawan” yang masuk ke dalam tim.
  • Selain tenaga sukarela, bagi yang benar2 bekerja full time perlu diberi kompensasi. “Pekerja politik” yang full time harus dibedakan dengan tenaga sukarela. Pekerja politik harus dihargai sama dengan pekerja bidang lainnya, tentu sebatas kemampuan kandidat, yang disepakati bersama.
2.     SUMBER DAYA DANA

Dana adalah unsur vital kedua yang harus jelas asal usulnya dan jelas jumlahnya. Seluruh komponen operasional pemenangan Pilkada bergantung kepada jumlah dana yang tersedia. Semua strategi disusun berdasarkan kapasitas dana. Masalahnya bukan banyak atau sedikit, tetapi berapa jumlah yang optimal untuk pemenangan sebuah Pilkada. Point penting untuk diingat dalam soal dana ini adalah:

  • Dana berasal dari sumber yang jelas dan tidak akan menimbulkan masalah dikemudian hari.
  • Dana harus tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat sesuai dengan tahapan yang disusun dalam strategi. Jumlah yang berlimpah tidak ada gunanya kalau tidak tepat waktu. Setiap tahapan Pilkada membutuhkan dana dalam jumlah dan waktu yang tepat.
  •  Jumlah dana yang cukup adalah dana yang optimal. Perlu memperhatikan prinsip Marginal Cost = Marginal Revenue. Setiap tambahan satu unit rupiah harus menghasilkan satu unit output  yang sepadan, agar tambahan biaya itu masuk akal.
  • Dana harus dialokasikan dalam bentuk Anggaran secara detil.
  • Pagu dana harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Perlu diingat kadang-kadang dana yang dikeluarkan Kandidat bisa melebihi jumlah yang secara resmi dilaporkan. Ini memang contoh yang tidak baik. Selayaknya gunakan dana sewajarnya.
  • Pastikan orang-orang kunci mengetahui dengan pasti jumlah dana yang sesungguhnya ada dan siap untuk digunakan dalam setiap tahap. Jangan sekali2 berbohong mengatakan uang sudah siap sekian padahal sesungguhnya uang itu belum ada. Ini akan mengacaukan emosi tim sukses.
  • Sejak awal harus memegang prinsip jangan menghambur-hamburkan uang secara tidak perlu.
3. SUMBER DAYA WAKTU 
Waktu adalah sumber daya yang paling kritis. Waktu dalam Pilkada sangat ketat dengan hitungan hari ke hari bahkan jam ke jam. Setiap menit waktu adalah berharga maka manajemen waktu ini sangat penting.Semua tahapan strategi Pilkada membutuhkan timing yang tepat.Maka Waktu menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan sebuah strategi pemenangan.

Dibutuhkan waktu khusus untuk menyusun strategi bersama orang-orang kunci yang telah anda pilih.Pertemuan yang banyak memakan tenaga dan waktu untuk menyusun strategi pemenangan.Setiap lini dalam framework tersebut harus dipertanyakan dan dijawab dengan tuntas.Tidak boleh ada satu lini pun yang tidak terjawab.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan pertemuan sesi strategi adalah:

  • Undang orang-orang kunci yang ada percayai dan yang pendapatnya anda butuhkan.
  • Gunakan framework untuk menelusuri dan menjawab setiap lini yang dibutuhkan dalam strategi pemenangan Pilkada.
  • Jadwal waktu yang tepat untuk setiap pertemuan sesi strategi. Pertemuan ini adalah sejak awal mencalonkan diri hingga menjelang waktu kampanye. Pada saat kampanye sudah dalam tahap menjalankan strategi.
  • Setiap strategi selalu memiliki pintu masuk dan pintu keluar. Pastikan selalu ada rencana cadangan.
Rangkaian pertemuan sesi strategi ini membutuhkan waktu yang panjang. Bahkan satu tahun sebelum resmi menyatakan diri sebagi kandidat, pertemuan persiapan sesi strategi ini semestinya sudah dilakukan. Beberapa riset terapan untuk pemilu (termasuk Pilkada) sudah harus dilaksanakan minimal satu tahun sebelum Pilkada berlangsung.

Semoga bermanfaat. Selamat bertanding dan menang ….
Source: Jafraubel and Isnuansa Blog.

Drama Strategi Pemenangan Pilkada

Pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung dan serentak di 269 daerah menjelang fase final yakni pemungatan suara (pencoblosan). Segala daya upaya moblisasi dukungan suara pemilih dilakukan oleh pasangan calon kepala daerah beserta tim pendukung. Strategi politik untuk mengapitalisasikan dukungan masyarakat dilakukan dengan memperhatikan keuntungan dan peluang politik.
Masa tenang menjelang pemungutan suara merupakan momentum krusial yang menentukan bagi pasangan calon kepala daerah untuk mengonsolidasikan basis dukungan politik yang paling riil. Kalkulasi tentang persebaran peta kekuatan dukungan politik komunitas pemilih menjadi target untuk diintervensi. Sangat mungkin intervensi berpeluang melanggar etika dan regulasi pemilukada, termasuk berpotensi menjadi praktik politik uang.
Strategi pemenangan Pilkada oleh pasangan calon bersama pendukungnya sangat erat kaitannya dengan yang dinamakan mengelola kepercayaan politik (the political trust) dan mencuri empati kolektif (collective enthusiasm). Mengelola kepercayaan politik dilakukan oleh pasangan calon kepala daerah yang telah memiliki afinitas dukungan politik dari komunitas pemilih tradisional serta komunitas pemilih yang memiliki kesamaan warna aliran politik.
Mengelola kepercayaan politik dilakukan sejak masa awal kampanye hingga detik-detik terakhir sebelum memasuki fase pencoblosan suara. Metode yang paling baik untuk menjaga kepercayaan politik adalah mengikat kontrak politik dan memberikan bantuan politik keuangan dalam periode tertentu untuk kepentingan komunitas calon pemilih. 

Sementara itu, strategi mencuri empati publik dilakukan para petarung kompetisi pilkada dengan mencoba menciptakaan pencitraan dan persepsi yang “heroistik", yang akan diterima komunitas pemilih yang berada di dalam ruang massa mengambang (the floating mass). Massa mengambang dalam pilkada biasanya belum menentukan pilihan pasti politik menjelang fase pencoblosan (pemungutan suara).

Pihak yang perlu dikaji dan menjadi target penambahan dukungan suara pemilih berasal dari kelompok yang belum menentukan pilihan politik, yakni kelompok pemilih ragu-ragu (the undecided voters). Kelompok ini berada dalam titik persimpangan antara menjadi golput atau memilih tanpa referensi. Kejelian membangun kepercayaan dan menarik empati mereka ditentukan sebagai strategi akhir yang jitu dan kontekstual. 

Di daerah yang standar pendidikan masyarakatnya rendah atau masih banyak masyarakat yang belum memiliki pengetahuan politik yang baik, strategi yang paling jitu—meski melanggar hukum dan etika demokrasi—adalah politik uang atau janji-janji bantuan anggaran. Politik uang biasanya dilakukan di waktu mendesak menjelang pilkada. Lazimnya, ini dikenal sebagai praktik serangan fajar, dengan memberikan amplop guna membeli suara pemilih.

Rendahkan Martabat
Sayangnya, praktik politik uang selama ini terkesan mengalami pembiaran dan seolah sudah menjadi kebiasaan yang justru dinanti-nanti masyarakat pemilih yang berwatak pragmatis. Padahal, politik uang sesungguhnya merendahkan martabat hak politik masyarakat pemilih. 

Adu strategi pemenangan pilkada saat menjelang pencoblosan (pemungutan suara) sangat menentukan kemenangan pasangan calon kepala daerah. Strategi tersebut menjadi kunci sukses memenangi dukungan suara masyarakat pemilih. Meskipun strategi akhir adalah akumulasi dari hasil strategi pada prapilkada dan masa kampanye, detik-detik akhir menjelang pemungutan suara sangatlah krusial.

Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan pasangan kepala daerah untuk memastikan kemenangan politik dalam fase pemungutan suara adalah. Pertama, kristalisasi dan penyolidan jumlah (persentase) dukungan suara pemilih. Kader-kader pendukung pasangan calon kepala daerah harus menjaga sinyal dan amanah dukungan politik komunitas pemilih dengan membentengi dari praktik curang politik uang serta intimidasi politik dari kelompok kepentingan tertentu. 

Kedua, memperkuat kontrol dan pengawasan saat fase pencoblosan dan penghitungan suara. Caranya dengan mempersiapkan saksi-saksi yang kompeten dan loyal. Hal tersebut guna menghindari praktik kecurangan saat penghitungan suara, maupun ketika pemungutan suara.

Ketiga, menjaga citra positif dengan melakukan silaturahmi politik terakhir sebelum fase pencoblosan. Hal tersebut menunjukkan kehadiran dan atensi calon pemimpin daerah pada masyarakatnya. Kemasan kegiatan bukan kampanye, namun berbagai kegiatan yang semakin mendekatkan emosi psikologis antara masyarakat pemilih dan tokoh sang calon pemimpin. 

Kita menunggu hasil pilkada di berbagai daerah dengan harapan, pilkada berjalan damai dan taat asas demokrasi. Hingga akhirnya, pilkada dapat menghasilkan pemimpin yang unggul serta berkualitas.

Penulis adalah pegawai negeri sipil di Bapermas Magetan, Jawa Tengah.


Sumber : Sinar Harapan

Komunikasi politik kajian pilkada STRATEGI TIM SUKSES EFISIEN & EFEKTIF

Oleh: Bahrin Rambe,SHI Tidak dipungkiri bahwa Pilkada adalah suatu pristiwa politik, namun proses dan hasil Pilkada dapat pula dicapai melalui analisis mekanisme pasar dan pendekatan makro-mikro ekonomi. Mensukseskan Pilkada (KPUD) dan memenangkan Pilkada (kandidat Gubernur/Bupati/Walikota) membutuhkan analisis untung rugi dan kalkulasi ekonomi yang akurat yakni bagaimana mengurangi resiko-biaya sosio-ekonomi dan sosio-politik. 

Efisiensi penting dalam berbagai bidang baik dalam pelaksanaan Pilkada (KPU/Desk Pilkada) maupun cara memenangkan Pilkada (kandidat/ koalisi/non koalisi partai pendukung). Tim sukses kandidat Pilkada seharusnya berpikir strategik-efisien bagaimana mengurangi resiko dan meningkatkan keuntungan/manfaat (”to minimize risks and to maximizize profits”). Hal ini diperlukan agar Pilkada dapat dilaksanakan secara efisien bukan sekedar efektif dengan mengurangi beban (”economic burdens”) dibandingkan dengan manfaat politik (”political benefits”). Dua kerugian dan kemubaziran yang timbul pertama pelaksanaan Pilkada tidak dijalankan dengan efisien dan yang kedua biaya ekonomi dan ongkos politik dari kandidat Gubernur/Bupati/ Walikota akan semakin besar.

SURVEI

Pilkada adalah proses demokrasi yang dapat diukur, dikalkulasi, dan diprediksi dalam proses maupun hasilnya.

Survei merupakan salah satu pendekatan penting dan lazim dilakukan untuk mengukur, mengkalkulasi, dan memprediksi bagaimana proses dan hasil pilkada yang akan berlangsung, terutama menyangkut peluang kandidat. Sudah masanya meraih kemenangan dalam pilkada berdasarkan data empirik, ilmiah, terukur, dan dapat diuji.

Sebagai salah satu aspek penting strategi pemenangan kandidat pilkada, survei bermanfaat untuk melakukan pemetaan kekuatan politik. Dalam hal ini, tim sukses semestinya membuat survei untuk: (1) memetakan posisi kandidat di mata masyarakat; (2) memetakan keinginan pemilih; (3) mendefinisikan mesin politik yang paling efektif digunakan sebagai vote getter; serta ( 4) mengetahui media yang paling efektif untuk kampanye.

Tim sukses harus mengandalkan survey untuk menentukan strategi pemenangan kandidat.
Untuk mengetahui bagaimana peta/sebaran dukungan dan preferensi pemilih terhadap kandidat berdasarkan aspek: wilayah, usia, jenis kelamin, pekerjaan, agama, afiliasi keagamaan dan organisasi sosial, serta tingkat sosial-ekonomi.

Untuk mengetahui bagaimana tingkat popularitas kandidat di masyarakat, baik pada masa pra-kampanye maupun pada masa kampanye menjelang pemilihan. Melalui survei, tim sukses akan dapat memperkirakan seberapa besar dana yang diperlukan untuk membiayai kampanye.

Melalui survei tim sukses dapat mengemas pencitraan kandidat sesuai dengan ideal yang diharapkan pemilih dan dapat menggunakan media kampanye yang tepat. Untuk mengidentifikasi isu-isu strategis yang berkembang di masyarakat sebagai bahan kampanye kandidat dan dapat menyusun program kampanye sesuai kehendak pemilih. Untuk mengetahui besaran peluang atau probabilitas menang kandidat dalam pilkada.

Sarana ”sosialisasi” kandidat kepada masyarakat.

Survey perlu diadakan minimal 3 kali sebelum hari H pilkada dilakukan. Survey pertama, sebaiknya dilakukan secepat mungkin. Sebab kandidat yang tahu situasi lebih cepat memiliki kemungkinan menang lebih besar. Survei pertama ini digunakan untuk mengukur modal dasar yang dimiliki kandidat dan mengukur harapan masa pemilih. Survei pertama dipakai sebagai dasar pencitraan kandidat, dan strategi pemasaran dan pemenangan kandidat. Survey kedua diadakan 3-2 bulan setelah tim sukses bergerak memasarkan kandidat (berkampanye). Survei ini digunakan untuk mengetahui seberapa efektif strategi kampanye yang telah dilakukan. Survey ketiga diadakan pada saat pelaksanaan kampanye pilkada. Survei ini digunakan untuk mengetahui seberapa efektif strategi kampanye dan upaya pemenangan yang telah dijalankan. Juga untuk menilai berapa kira-kira perolehan suara kandidat dalam pilkada nanti.

JARGON SINGKATAN NAMA CALON KANDIDAT

Orang Indonesia lebih cepat mengenal kata atau merek yang terdiri dari dua suku kata. Mirip dengan strategi pembuatan merek yang menganjurkan menggunakan kata sederhana agar mudah diingat, mudah dibaca dan ditulis.

Lantas bagaimana dengan merek yang menggunakan lebih dari dua suku kata? Tentu saja tetap bisa sukses dipasar dengan menggunakan berbagai strategi. Yang pasti effort dan waktu yang digunakan akan berbeda. Sebagai contoh, YAMAHA yang baru saja sukses menjadi market leader di awal tahun ini setelah melewati masa yang cukup panjang menghadapi dominasi Honda.

Beberapa merek yang panjang menggunakan strategi singkatan agar lebih mudah dikenali dan diingat. Presiden Indonesia Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono disingkat SBY, merek Hawlett Packard disingkat HP, Studio 21 disingkat TO, Mc Donald dikenal dengan McD, Kentucky Fried Chicken menjadi KFC, jalan Botolempangan disingkat Botlem, Mal Ratu Indah menjadi MARI, Mal Panakkukang menjadi MP, PT. Telekomunikasi Indonesia dikenal dengan TELKOM, Excelcomindo disingkat XL, Ujungpandang Ekspress menjadi UPEKS dan lain sebagainya.

Tim Sukses Cagub telah memikirkan berbagai strategi untuk menguasai benak calon pemilih. Termasuk strategi pemilihan singkatan bagi nama calon untuk menjadi materi promosi. Konsep memasarkan Cagub adalah personal branding strategy. Karena nama Cagub juga sama dengan merek. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari dan meng-implementasi-kan konsep personal branding ini. Perlu diingat bahwa dalam pemasaran, tiada lain bertujuan menciptakan persepsi terhadap merek untuk masuk ke benak pasar (mind share) hingga menguasai hati pemilih (heart share).

Mengapa heart share? Karena para pemilih kita adalah pasar yang rasional dan akan bertindak sesuai dengan hati nuraninya.

INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGI

pembahasan sekelumit tentang “kekuatan” Information and Communication Technology (ICT) terhadap sebuah kekuatan politik, khususnya tentang kampanye. Bisa jadi, hal ini bukan sesuatu yang baru. Pasalnya, pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1944 saja, Franklin D Roosevelt telah menggunakan teknologi yang cangih pada jamannya, yakni Radio, sebagai sarana untuk mensukseskan pemilihannya.

Di Indonesia saat ini berbagai inovasi dalam berkampanye sudah dilakukan. Berbagai strategi kampanye yang ada di luar negeri dicoba diterjemahkan dan diimplementasikan di Indonesia. Namun sayangnya, banyak pihak belum menggabungkan dan membangun sejumlah perangkat kampanye menjadi satu kesatuan. Melakukan sinergi antara item dan strategi kampanye modern dan tradisional sehingga terbentuk sistem yang cantik dan cerdas. Yang terjadi saat ini justru “perang” item kampanye konvensional. Seperti kaos, spanduk, baliho, stiker, dan lain-lain. Tidak hanya itu, kekuatan/konflik fisik pun mewarnai dan mencoreng nilai kampanye. Sesuatu yang sangat tidak diharapkan.

Jumlah daftar pemilih bagi kandidat bupati/walikota/gubenur tentu merupakan data yang sangat penting. Dari data inilah nantinya bisa dijadikan informasi. Dan dari informasi yang ada akan dibuat sebuah pemetaan. Yakni peta untuk mengetahui:

– yang menjadi kekuatan/pendukungnya
– yang kontra
– yang abstain
– yang mengambang
– yang ragu
– Dan lain-lain.

Pemanfaatan ICT, seperti SMS, Call Centre, Radio daerah dan Situs merupakan langkah awal untuk bisa menjaring loyalis, mengenalkan sang kandidat sekaligus melakukan pemetaan awal. Untuk SMS, khususnya di daerah yang penetrasi ponselnya sudah relatif tinggi, dengan melakukan “pancingan” berupa Kuis SMS (dengan tema yang mengarah pada sang kandidat, tanpa melakukan black campaign) yang berhadiah menarik, tentu data yang masuk menjadi point tersendiri bagi sang kandidat. Data inilah yang harus diolah menjadi informasi yang bisa merebut hati dan pikiran calon pemilih. Ini pula peluang/kesempatan sang kandidat untuk bisa menjadikan pertemuan maya menjadi pertemuan nyata.

Dengan mencermati aturan yang ada, tanpa melanggar ketentuan, bagaimana caranya SMS Broadcast dilakukan dengan pesan-pesan yang memikat calon pemilih. Atau dengan kata lain mulai melakukan soft campaign. Data no HP dari SMS Quis merupakan aset mahal bagi sang kandidat. Begitupun saat kampanye berlangsung, dibukanya kran untuk menyampaikan kritik, saran dan pendapat dari pemilih dan bagaimana sang kandidat bisa menanggapi secara simpatik merupakan bagian dari strategi kampanye yang perlu di cermati.

Bagi kandidat, penerapan ICT dalam masa pra kampanye dan saat kampanye, bahkan saat perhitungan suara (yang dilakukan oleh tim sukses dan loyalis) untuk menjaga akuntabilitas KPUD tentu merupakan point plus tersendiri. Dibukanya kran kritik, akan memberikan image terhadap kandidat bahwa dirinya siap dikritik dan siap mendengarkan. Sementara masukan/data masyarakat berupa kritik dan lainnya dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas kampanye. Memang benar, penetrasi ponsel tidaklah besar dibandingkan jumlah pemilih, Namun efek domino terhadap lingkungan sekitar inilah yang diharapkan mampu mendongkrak popularitasnya dan pada akhirnya memilih dirinya.

Lagi-lagi ini adalah cara jitu menangkap basah “pasar” potensial dalam melakukan pemetaan. Sehingga bisa diketahui mana yang harus konsentrasi kampanyenya lebih besar, mana yang tidak.

Begitupun dengan pemanfaatan teknologi call centre. Dengan dibukanya akses telepon gratis/bebas pulsa pada waktu-waktu tertentu sehingga ada komunikasi langsung antara calon pemilih dan sang kandidat, menjadikan peluang untuk bisa mengetahui isu-isu apa yang paling penting di daerah satu dengan yang lain. Inipun bisa dijadikan peluru dalam menyampaikan pesan-pesan yang “membumi” saat kampanye berlangsung. Bukan pesan umum yang ada di awang-awang yang susah untuk dicernah oleh calon pemilih. Lagi-lagi ini peluang untuk mencari pasar potensial loyalis. Fungsi yang sama pun berlaku bagi situs.

KOMUNIKASI MASSA

Memposisikan media sebagai sebuah kekuatan vital, sebagaimana tergambar dalam hypodermic theory. Dengan anggapan bahwasannya massa itu bodoh, pasif dan bisa dimanipulasi, iklan gencar-gencaran di pasang sebagaimana pamplet, spanduk dan baligo di pasang dimana-mana.

Tetapi apapun praktek komunikasi massa yang dilakukan, figure yang tampil tetap menjadi bahan perhatian yang tidak akan pernah terlupakan. Karena elemen komunikasi massa tidak hanya media penyampaian informasi dan khalayak saja, tetapi juga figure alias komunikator sebagai aktor utama. Hal terakhir inilah yang mesti dicek kembali kelayakannya untuk dijadikan pilihan oleh masyarakat banyak.

Disinilah kemudian faktor kredibilitas menjadi rujukan. Kredibilitas yang merujuk langsung kepada kapasitas tekhnis, moral dan kepintaran sang kandidat. Secara teoritik kredibilitas memang bisa di design sedemikian rupa. Apalagi di zaman dimana komputer sudah menjadi kehidupan keseharian masyarakat.

Memakai tekhnik photo mutakhir, gambar yang garang bisa dimanipulasi. Hitam bisa jadi putih, hijau jadi merah,muka garang bisa jadi muka manis, muka dingin bisa jadi sangat friendly. Pada pilpres kemarin Tim sukses Amien Rais berusaha mati-matian untuk menghilangkan kesan muka licik pak Amien. Dan itu sukses setelah beberapa kali photo Amien Rais di bolak-balik oleh sebuah biro photographi di Jakarta.

Simbol sebagai kekuatan media massa, komponennya ada dua. Pertama kuantitas symbol itu disosialisasikan kepada masyarakat. Semakin massif symbol itu disosialisasikan di tengah masyarakat, maka semakin tinggi tingkat kemungkinan symbol itu merasuk kealam bawah sadar masyarakat pemilih dan menjadi pegangan di bilik suara. Kedua tingkat kedekatan symbol itu di tengah masyarakat. Semakin symbol itu menjadi keseharian kehidupan masyarakat, maka symbol itu akan sangat mungkin untuk menang. Misalnya, pada pilkada D.K.I. Jakarta kalau Fauzi Bowo dengan ciri kumisnya dapat diingat oleh para pemilih di bilik suara. Warna orange yang dipakai Adang sudah menjadi keseharian kehidupan masyarakat Jakarta. Sudah tersosialisasikan begitu massif sebelum pelaksanaan pilkada itu sendiri. Indikatornya bisa dilihat dari pendukung Persija, yang sudah menjadi maskot warga ibukota, juga warna identitas pemda Ibu kota sendiri.

STRATEGI TWO STEP COMMUNICATION

Pada jurusan lain strategi two step communication pun dilaksanakan baik dengan cara manipulatif maupun proses negosiasi politik yang elegant. secara manipulatif masing-masing calon memanfaatkan posisinya sebagai pimpinan beberapa perkumpulan. Bahkan membuat komunitas bikin-bikinan dan menyatakan sebagai pendukungnya. Sehingga tidak aneh bila masa pilkada ini banyak organisasi yang tiba-tiba muncul dan menyatakan dukungan.

Secara elegan sejumlah prominent figure didekati dan diminta partisipasinya untuk mendukung masing-masing kandidat. Keuntungannya kesuksesan citra bahwasannya mendapat dukungan dari tokoh masyarakat juga bergeraknya komunitas dibawah bimbingan tokoh tersebut.

MEMAKAI JASA LEMBAGA STRATEGIC AND POLITICAL CONSULTING

Cara inilah mungkin yang paling mahal pada saat ini. Misalnya kita ambil dari pencitraan Soetrisno Bachir atau biasa disingkat S.B. dia memakai jasa lembaga strategic and political consulting profesional pertama di Indonesia yaitu Fox Indonesia.

Yang dimaksud professional disini dalam pengertian bisnis kampanye yang modern dan konsultan murni, penggarapannya mulai hulu hingga hilir. Mulai pencitraan, iklan, pemberitaan di media, kampanye, sampai strategi pemenangan suksesi.

Dalam pengerjaannya Fox Indonesia menggunakan sistem outsourching. Beberapa elemen dalam proses produksi diserahkan kepada profesional. Misalnya pemenangan pilkada diperlukan elemen survey. Untuk tugas itu, Fox Indonesia menyerahkan kepada LSI ( Lembaga Survei Indonesia ) milik Saiful Mudjani. Begitu juga dalam pembuatan iklan di televisi. Sampai-sampai melibatkan sutradara muda Ipang Wahid, urusan Fotografi dipercayakan pada fotografer kawakan Darwis Triadi. Bahkan sebentar lagi sutradara terkenal seperti Garin Nugroho akan bergabung dengan Fox Indonesia. Puncak demokrasi adalah sebuah festival tempat berbagai komunitas masyarakat bisa bergabung dan menikmati kebebasan menuangkan kreasi, termasuk para seniman.

Untuk menunjang pekerjaan Fox Indonesia dibentuk beberapa divisi. Salah satunya yang paling krusial adalah divisi Think thank yang menggagas ide-ide dalam membangun citra tokoh dalam iklan. Termasuk pemilihan puisi Chairil Anwar dan ide memasang iklan di studio 21. Strateginya juga termasuk memasang iklan di Koran-koran utama, media luar ruang pemasangan baliho di seluruh Indonesia, dan roadshow ke berbagai daerah di Indonesia. Harga yang dipatok memang mahal, untuk iklan di televisi saja bisa mencapai 180 kali tayang dalam sehari dan ditayangkan di jam-jam utama atau prime time. Belum lagi iklan di radio dan TV lokal, maka dari itu diperlukan anggaran yang sangat besar untuk menggunakan jasa konsultan seperti Fox Indonesia.

KESIMPULAN

Dari strategi diatas diharapkan selain efektif dan mengena, juga efisiensi biaya di perhitungkan. Selain itu waktu dan kesempatan juga diperhitungkan mengingat persaingan sesama kandidat semakin kompleks. Jika tim sukses telat mengambil langkah dan kalah dengan tim sukses calon kandidat lain jelas merugikan tim sukses ini. Selain ongkos biaya yang terbuang percuma, juga calon kandidat yang diperjuangkan akan menerima hujatan dari masyarakat yang membela kandidat lain, serta massa yang sebelumnya mendukung kandidat ini akan balik menghujat karena beralih mendukung kandidat lain. Dari strategi yang tertulis adalah suatu opsi yang harus juga diperhitungkan. Mengingat strategi tersebut juga tidak sedikit ongkos biaya yang dikeluarkan, dan mewajibkan tim sukses agar selalu berfikir efisien dan efektif dalam memperjuangkan kandidat.

Strategi dan Cara Jitu Menang Pemilukada

Oleh: Syarief Aryfaid, Direktur Eksekutif Lembaga Strategi Nasional
1. Pengantar
Dalam rangka mewujudkan keberhasilan dalam kontestasi politik pemilihan kepala daerah secara langsung, yang demokratis dan profesional, perlu disusun manajemen strategi pemenangan kandidat berbasis resource politik, ekonomi, sosial, dan juga agama dan adat, khususnya dalam rangka memastikan kandidat yang berkontestasi mendapat dukungan maksimal dari masyarakat (voters). Dalam implementasinya, memerlukan proses dan kesiapan tim yang solid dan profesional, yaitu memahami berbagai strategi alternatif dalam memenangkan kontestasi politik pemilukada serentak.
Keberhasilan kandidat juga tidak lepas dari kemampuan tim pendukung yang memiliki kompetensi, integritas serta loyalitas dukungan yang masif. Oleh sebab itu, kontestasi politik pilkada bukan hanya bicara soal pertarungan individu kandidat (dengan segala atribut politik yang dimilikinya), akan tetapi secara sadar harus dipahami sebagai proses kolektifitas tim politik. Dalam menghadapi situasi dan kondisi seperti tersebut, maka pilihan-pilihan strategi pemenangan harus cermat dan tepat sesuai dengan kondisi lapangan (sosial, ekonomi, politik, budaya), dimana di dalam strategi tersebut terdapat berbagai metodologi-metodologi yang dapat diuji keilmiahan serta keakuratan dalam implementasinya.
Kemampuan dalam menyusun rencana dan strategi dalam kontestasi pemilu legislatif dan Pemilukada, akan menjadi parameter cara kerja tim sukses (timses). Indikatornya adalah dapat dilihat dari seluruh rangkaian/tahapan pemilu, pemilu legislatif dan pemilukada
2. Pentingnya Strategi.
Strategi merupakan pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Di dalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif. Strategi dibedakan dengan taktik yang memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dan waktu yang lebih singkat, walaupun pada umumnya orang sering kali mencampuradukkan ke dua kata tersebut.
Mengacu pada pandangan Michael Porter, dimana gagasan strategi bisnisnya sangat relevan untuk dijadikan literasi dalam kontestasi politik kontemporer, seperti halnya kontestasi politik pemilukada. Dengan meminjam cara kerja konsep Porter, maka dalam strategi tingkat pemenangan pemilukada adalah bagaimana cara setiap kontestan/kandidat melakukan kompetisi dan bersaing untuk memperoleh kemenangan.
Terdapat Lima Kekuatan Kompetitif Porter sebagai refensi kompetisi politik pemilukada: Pendekatan Porter menurut penulis, didasarkan atas analisis 5 kekuatan kompetisi/persaingan yaitu mencakup:
  • Memahami Ancaman Pendatang Baru. Seorang kontestan yang fighting, ia harus memahami dan memetakan serta mampu merumuskan peta jalan keluar ketika ia mengetahui bahwa ia memiliki kompetitor yang kuat yang dapat mempengaruhi perilaku pasar (pemilih). Oleh sebab itu kandidat dan tim secara teorganisir harus mampu memproduksi barang politik yang mudah di terima oleh pasar (pemilih).
  • Memahami Daya Tawar Menawar Pemasok. Pemasok dalam perspektif politik dapat diterjemahkan sebagai bergabungnya berbagai elemen untuk mendukung kandidat. Dalam konteks pemasok tersebut, maka sangat penting bagi kandidat dan tim untuk memahami daya tawar menawar pamasok tersebut, sebab jika tidak dianalisis dan dikelola dengan baik maka, bisa jadi “pemasok” tersebut dapat juga menjadi ancaman bagi internal tim dan kandidat. Sebab pemasok dapat menaikkan harga produk yang dijual (popularitas dan elektabilitas kandidat) dan pemasok bisa juga mengurangi kualitas dan citra kandidat.
  • Memahami Daya Tawar Menawar Pembeli. Pembeli dalam perspektif kontestasi politik dapat diterjemahkan sebagai proses mencari dukungan yang dilakukan oleh kandidat dan timses. Secara teoritik, pembeli akan selalu berusaha mendapat produk dengan kualitas baik dan dengan harga yang murah. Artinya, bahwa kandidat dan timses harus memahami secara obyektif tentang siapa pembeli dan barang apa yang di beli. Sikap pembeli (pendukung dan penyokong modal) semacam ini berlaku universal dan memainkan peran yang cukup menentukan bagi proses kontestasi politik. Sudah menjadi rahasia publik, bahwa setiap kandidat dan timses butuh banyak dukungan resources untuk memenangkan kontestasi. Jadi jika suatu produk dinilai harganya jauh lebih tinggi dari kualitas (harganya tidak mencerminkan yang sepantasnya) maka pembeli (konsumen) tidak akan membeli produk politik yang di tawarkan atau yang dijual oleh kandidat.
  • Memahami Daya Tawar Produk Pengganti. Kandidat dan timses yang cerdas dan cerdik, ia harus memiliki kemampuan untuk mengetahui kehadiran produk pengganti secara fungsional mempunyai manfaat yang serupa dengan produk utama (asli). Artinya bahwa program apapun yang kita tawarkan ke pemilih (pasar), harus selalu disiapkan dengan kualitas program pengganti yang sesuai dengan permintaan dan ekspektasi publik
  • Memahami Persaingan Antar Pesaing. Persaingan konvensional selalu berusaha sekeras mungkin untuk merebut pangsa pasar pemilih dari lawan politik. Pemilih sebagai konsumen merupakan objek persaingan dari seluruh konstestan (timses dan partai politik serta relawan) yang sejenis yang bermain di pasar. Siapa yang dapat memikat hati pemilih (masyarakat/konsumen) maka kandidat akan dapat memenangkan persaingan. Untuk dapat memikat konsumen maka berbagai cara dilakukan mulai dari memberikan fasilitas khusus, pemberian kredit dengan syarat ringan, harga murah atau diskon, dll.

3. Tujuan Strategi
Secara umum strategi yang dirancang LSN bertujuan sebagai guidens untuk memperjuangkan kemenangan bagi kandidat yang akan berkontestasi dalam kontestasi politik pemilihan umum, baik itu pemilu presiden, pemilu legislatif, dan pemilukada tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Sedangkan tujuan khusus dari program strategi LSN yaitu:
  • Identifikasi kader-kader pendukung Ideologis, Pragmatis, Rasionalis dan Tradisional. Dari hasil assessmentakan diperoleh sekelompok orang (kader) yang mempunyai keahlian tertentu (talent pool) untuk mendukung dan memenangkan kandidat dalam proses pemilu/pemilukada
  • Terbentuknya Tim Pemenangan Kandidat (TPK)
  • Terlaksananya Training of Trainer (ToT) bagi Timses
  • Terlaksananya Survei Pemetaan Dukungan Pemilih dan Perilaku Pemilih
  • Terbentuknya Tim Kampanye Bagi Kandidat
  • Terumuskan Grand Strategic dan Peta Jalan Pemenangan Kandidat

4. Tahapan Kegiatan
Berangkat dari analisis dan estimasi waktu penyelenggaraan pemilukada, dibutuhkan kesiapan dan kematangan perangkat (infra dan suprastruktur) baik internal Kandidat maupun bagi Tim Pemenangan Kandidat. Oleh sebab itu dalam desain konsep jasa konsultansi politik, ini ada beberapa tahapan kegiatan yang dapat LSN ajukan sebagai bagian dari proses konsultansi pemenangan kandidat, dengan menggunakan metode assessment center, terdiri atas tahapan sebagai berikut:
  • Tahapan Persiapan
  • Kajian Ulang (Review)Potensi Kandidat
  • Kajian Ulang (Review)Potensi Timses/Tim Pendukung
  • Kajian Pembentukan Tim Pemenangan Kandidat (TPK)
  • Penyusunan Skema Kerja Tim, yang meliputi: Penguatan Kapasitas Timses dan TPK diseluruh wilayah
  • Uji Coba Simulasi
  • Penyusunan Jadwal Pelaksanaan.
5. Tahapan Action/Lapangan
Meliputi:
  • Penelitian
  • Ansosekpol dan Survei Potensi Dukungan
  • Publikasi
  • Kampanye Tertutup
6. Survei dan Kampanye
Jika pada ansosekpol tahap 1 lebih fokus pada pemetaan perilaku pemilih yang acuanya behavioral approach, maka ansosekpol tahap 2, adalah riset pemenangan, dengan menggunakan pendekataninfluenz of power, yaitu sebuah pendekatan riset, dimana surveyor diberi bekal, kiat, metode untuk mempengaruhi hati dan pikiran pemilih agar memilih kandidat yang kita usung. Sasaran metode ini adalah bagi pemilih dengan kategori, rational choices, young voters (pemilih pemula), tradisional choice, swing voters, pemilih transaksional. Survei tahap dua ini juga menjadi bagian dari proses kampanye tertutup.
Secara metedologis, dalam survei ini akan diajukan beberapa pertanyaan singkat yang harus disampaikan kepada pemilih dan jawabanya juga hrs dicatat oleh surveyor, yang kemudia hasil survei tersebut ditabulasi dan dianalisis berdasarkan wilayah atau area sebaran pemilih.
7. Kanalisasi Dukungan
Kedua ansosekpol tersebut di atas, secara bersaamaan akan mendaptakan informasi yang jelas soal berbagai tipelogi pemilih dan jenis dukungan. Oleh sebab itu maka perlu dirumuskan langkah tindak lanjut dengan menerapakan Sistem Kanalisasi Dukungan, yaitu sebuah metode yang membagi poteni dukungan ke dalam delapan Jalur/Kanal, antaralain: Jalur Keluarga, Pertemanan, Profesi, dll
8. Penutup
Demikian konsep strategi pemenangan yang disusun oleh LSN. Apabila ada hal-hal yang belum dibahas dalam tulisan ini dapat dibicarakan lebih lanjut. Informasi dan komunikasi lebih lanjut mohon dapat menghubungi kami.

Kunci Dasar Memenangkan Pilkada Selengkapnya

Oleh : Jejep Falahul Alam Di bagian wilayah III Cirebon yang meliputi Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka, saat ini masyarakatnya akan dihadapkan pada pesta demokrasi rakyat. Pertarungan kekuasaan di wilayah tersebut sudah memasuki babak baru. Bahkan suhu politiknya terasa kian memanas. Bagi Kabupaten Majalengka sendiri, saat ini sudah memasuki tahapan pendaftaran. Ada empat pasangan calon yang berebut tiket menuju orang nomor satu dan dua di Kota berjuluk angin tersebut. Mereka sendiri berasal dari pasangan incumbent, H. Sutrisno-Karna Sobahi (Suka). Kedua, H. Abah Encang/Nazar Hidayat-H. Tio Indra Setiadi (Hati). Ketiga, Kolonel Apang Sopandi-Nasir (Sopan) dan terakhir dari pasangan persorangan, Yeyet Rohayati-Sudirman (Yes). 

Keempat konstestan ini akan bertarung dalam Pemilukada Majalengka yang dihelat pada Minggu, 15 September 2013 mendatang. Bagi Kabupaten Cirebon sampai sejauh ini belum ada pasangan calon secara resmi mendeklariskan diri sebagai pasangan balonbup. Kabarnya masih tiarapnya pasangan calon masih menunggu calon yang mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP. Terlebih saat ini suami dari Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarno Putri, Taufik Kiemas meninggal dunia. Maka dipredeksi rekomendasi itu akan lama turun karena memasuki masa berkabung. Tapi meski demikian, isu beredar di sejumlah BBM mencuat pasangan calon di Kabupaten Cirebon di antaranya:

1. Sunjaya Poerwadadi - H. Tarmadi (diusung PDIP), 
2. Nurul Qomar - Mitra Sumitra (Demokrat-Gerindra), 
3. Djakaria Macmud - Elang Kusnandar (PKS-PBB), 
4. Sri Heviyana- Rahmat (Hanura-Partai Non Parlemen), 
5. Ason Sukasa-Sukaryadi (Golkar- Partai Non Parlemen). 
6. Muhamad Lutfi - Odjo Sudardjo (PKB-PPRN) dan 
7. Moh. Insyaf -Juandi (Calon Persorangan). 

Sedangkan bagi Kabupaten Kuningan pasangan Hj, Utje Ch. Hamid Suganda (Istri Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda) berpasangan dengan H. Acep Sumarna (Ketua DPC PDIP Kab. Kuningan).

Keduanya menamanakan diri sebagai pasangan "UTAMA" yang diusung PDIP, PAN, PPP, PBB, PKPI, PKPB. Penantang UTAMA sampai sejauh ini belum ada, namun Wakil Bupati Kuningan, H. Momon Rochmana menjadi rival yang patut diperhitungkan. Terlepas dari deretan nama pasangan calon dari masing-masing Kabupaten di wilayah III Cirebon, namun bila kita mendengar kata Pilkada (Pemilukada), mungkin sudah tidak asing lagi dengar. Pada tataran ideal, Pemilukada bertujuan melakukan pergantian kekuasaan, dengan cara yang demokratis dengan mengikutsertakan rakyat secara langsung untuk memilih pemimpinnya. Harapan dari semua ini, agar terpilih kepala daerah yang pro rakyat, berkualitas, dan ikhlas dalam mendarmabaktikan hidupnya untuk mengabdi pada daerahnya.

Namun dalam realitasnya, kenyatan itu masih distorsi, sehingga Pemilukada tidak lagi bisa diandalkan untuk memunculkan kepala daerah yang benar-benar berkualitas. Tetapi cenderung hanya menjadi raja-raja kecil di daerah kekuasaanya. Terlepas dari semua itu, menjadi seorang kepala daerah tentunya hampir menjadi dambaan semua pihak, termasuk saya sendiri. Tapi karena keterbatasan kemampuan, keinginan itu baru sebatas anggan-angan dalam hati. Belajar dari pengalaman saat duduk di bangku kuliah, penulis pernah mencoba mengotak-atik konsep strategi dan taktik pemenangan Pemilukada, yang dikupas dari literatur buku yang berkaitan dengan realitas yang terjadi. 

Penulis mencoba menyimpulkan dalam beberapa langkah strategis, meski ini bukan cara yang baku dan mutlak untuk dilaksanakan. Sebenarnya ada banyak cara meramu strategi mengoalkan pasangan calon menang dalam sebuah perebutan kekuasaan. Baik itu secara legal maupun ilegal. Karena harus diakui, di dalam perebutan kekuasaan, apapun harus dilakukan yang terpenting bendara kemenangan harus dikibarkan. Ibarat bermain sepak bola, meski tidak mampu menggunakan formasi 4-3-3 (menyerang) dan memilih stratategi bertahan, bila itu kunci kemenangan maka wajib dilakukan. Karena percuma memperagakan permainan cantik, bila pada akhirnya harus pulang dengan kepala tertunduk. Strategi dan Taktik Sebelum perang dimulai, langkah yang harus dilakukan dengan melakukan pemetaan kekuatan parpol. 

Karena jangan sampai kandidat menumpangi perahu (partai) yang tidak jelas dan tidak memiliki kekuatan di masyarakat. Langkah ini penting, agar pencalonan bukan hanya mengumbar uang cuma-cuma, tanpa hasil yang diharapkan. Lalu, sudah bukan rahasia umum, di dunia ini tidak ada yang gratis. Apalagi hidup di kota besar, mau buang air kecil saja ada tarifnya. Terlebih ini mau mencalonkan diri menjadi seorang kepala daerah. Maka dari itu, memang uang bukan segalanya, tapi keberadaanya sangat berpengaruh. Ini fakta yang tidak bisa dihindari. Masyarakat saat ini menjelam menjadi pragmatis, akibat pendidikan dan kesalahan para pelaku politik sendiri yang tak menempati janji-janji politiknya. Pertanyannya, mengapa masyarakat kini sudah dibutakan dengan uang? Jawabanya, ini terjadi karena rakyat sudah tidak lagi mempercayai komitmen kepala daerah bila sudah terpilih nanti. 

Mereka kerap beranggapan, yang sudah-sudah, seringkali terjadi kacang lupa kulitnya. Sehingga kesempatan emas ini dimanfaatkan masyarakat, untuk meminta kompensasi dari awal sebelum Pilkada dilaksanakan. Logis permintaan tersebut, karena rakyat sekarang sudah semakin cerdas, dan selalu berpikir siapa pun yang terpelih nanti, tidak bakal berpengaruh bagi kehidupan mereka. Langkah selanjutnya, memetakan kecenderungan politik di masyarakat. Masyarakat atau pemilih pada umumnya belum mengetahui jejak rekam para calon, sehingga perlu dibentuk opini yang baik tentang kandidat yang bakal diusung. Caranya dengan memberikan jawaban dan solusi atas permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Penyebaran isu ini harus dilakukan oleh tim sukses, relawan, maupun oleh kandidat itu sendiri. Misalnya, permasalahan di kecamatan A, yang paling menonjol adalah kurangnya perhatian pemerintah di dalam sarana dan prasana infrastruktur jalan. 

Sebagai calon kepala daerah yang cerdas, seharusnya bisa memanfaatkan isu tersebut untuk meraih dukungan rakyat. Berikan jalan keluar kepada masyarakat setempat, dari cengkreman masalah yang membelitnya. Intinya, bentuklah tim yang mengatur manajemen isu, baik untuk calon maupun lawan. Pantau terus perkembangan isu tersebut baik di surat kabar maupun opini yang berkembang di masyarakat. Deklrasi Pasangan Bentuk Tim Sukses Guna mempromosikan pasangan calon, tidak mungkin seorang kandidat bisa berjalan sendiri sepertihalnya meniru manajamen tukang bakso. 

Sehingga hukumnya wajib dibentuk tim sukses yang memiliki karakter bisa dipercaya, solid, profesional, cerdas, komunikatif dan menguasai lapangan serta bidang-bidang tertentu yang dibutuhkan. Mengenai tim Pemenangan bisa dibentuk baik melalui partai pengusung, maupun tim khusus yang dibentuk sendiri. Pasanglah orang yang tepat untuk menjadi anggota timses berdasarkan kemampuan dan pengaruh kewilayahan. Termasuk timses maupun relawan harus bisa memantau situasi terkini yang berkembang di masyarakat. Mengenai tempat paling strategis untuk menyebarkan isu maupun memantaunya, adalah tempat-tempat keramaian, pasar, kantor, warung kopi, pos kamling, maupun perkumpulan warga lainnya. Dalam pertemuan itu sebarkan dan "racuni" otak warga dengan isu-isu yang berkembang saat ini. Berikan pemahaman yang cerdas, namun jangan sampai mencolok membela pasangan yang kita dukung. Atau lebih tepatnya silahkan baca buku, bagaimana mempengaruhui kawan dan lawan. Di dalam buku tersebut dijelaskan secara gamblang bagaimana tata cara mencuci otak orang lain, agar turut dan patuh tanpa dengan kekerasan. Strategi lainya yang harus dikembangkan timses maupun kandidat, dengan memanfaatkan media komunikasi sosialisasi bukan hanya mengandalkan media televisi, iklan di koran, spanduk, baligo, dan media alat peraga lainnya. 

Tapi manfaatkan kemajuan teknologi dewasa ini. Seperti media jejaring sosil, twitter, facebook, blogspot, BBM, websate dll. Tujuan semua ini memberikan akses informasi kepada masyarakat melalui dunia gaib (maya). Bangun image dan presepsi publik tentang calon dalam setiap kesempatan yang ada. Baik itu, saat bertatap muka dengan masyarakat, maupun melalui berbagai media lainnya. Lihat Gubernur DKI Jakarta, Jokowi saat kampanye dulu. Ia mampu memperagakan karakter berbeda seorang pemimpin yang tidak lazim. Politik yang berbeda semacam ini yang menjadi santapan media massa untuk terus memburu beritanya. Secara jangankan warga DKI, seluruh pelosok di negeri ini hampir mengetahui nama Jokowi. Namanya masih tetap harum dari sabang sampai merauke berkat pencitraan baik di media elektronik dan cetak. Sehingga tidak terlalu berlebihan ketika Jokowi saat ini manggung, menjadi amunisi utama yang dimiliki PDIP sebagai partai pengusung. Dimana ada Pilkada dalam skala besar, Megawati akan memerintahkan Jokowi untuk turun gunung membantu pasangan calon yang diusung partai berlambang banteng moncong putih. Apang Sopandi-Nasir (Sopan) Cabup dan Cawabup Majalengka Dampak lainnya, di antara deretan popularitas calon presiden yang ada saat ini, berdasarkan hasil lembaga survei, mantan wali kota Solo berada diposisi puncak klasemen. 

Mampu menumbangkan popularitas dan elektabilitas seniornya, baik itu Megawati, Prabowo Subianto, Wiranto, Jusuf Kalla dan lain sebagainya. Selanjutnya, di samping bermain di media. Pasangan calon juga harus banyak berinteraksi dan melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat secara langsung. Ini harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bila kunci ini dihindari, maka sudah dipastikan kekalahan sudah di depan mata. Mengapa harus banyak bercengkrama dengan masyarakat, tujuannya selain memupuk silaturrahmi dan mendapatkan amal ibadah dari Allah SWT, juga mampu mendongkrak popularitas dan elektabilitas calon di mata masyarakat. Tak kenal makanya tak sayang. Dengan sering berbaur dengan masyarakat, kandidat juga akan membaca karakteristik pemilih. Karena biasanya antara daerah satu dengan wilayah lainnya terjadi perbedaan adat maupun kultur budanya. 

Bila hal itu telah dikuasi, dan calon mampu meneropong kekuatan dan kelemahan lawan, kemenangan tinggal menghitung hari. Menumbangkan Incumbent Melawan incumbent bukan perkara yang mudah. Berkaca pada pengalaman, hampir di setiap Pemilukada di tanah air ini dimenangkan incumbent. Banyak faktor yang mempengaruhui kemenangan tersebut. Selain menguasi akses ekonomi, birokrasi, pengaruh ke urat nadi masyarakat, jaringan serta dana yang melimpah. Incumbent atau petahana jauh sebelum penantangnya hadir, mereka sudah gencar melakukan sosialisasi ke pelosok desa. Tujuanya tiada lain, untuk mempertahankan kursi jabatanya bila bertarung di periode berikutnya. Maka dari itu, para penantang perlu tenaga ekstra dan kecerdikan yang luar biasa. Karena itu, gunakan semua peluang dan kesempatan yang ada sekecil apapun untuk memangkas pengaruhnya tersebut. Setelah itu, hantam dengan penyebaran isu yang mampu melahirkan image buruk di tengah masyarakat. 

Dampaknya masyarakat merasa antipati terhadapnya. Lakukan juga analisis SWOT, guna membaca kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan dari masing-masing kandidat yang akan berlaga memperebutkan tahta kekuasaan. Setelah itu terpetakan, akan mudah bagi setiap pasangan calon untuk melakukan penyerangan. Dan kemenangan yang menjadi impian bisa segera terwujud. Terakhir, tentunya masih banyak langkah lainnya dalam memenangkan Pemilukada. Karena tadi, karakteristik pemilih dan popularitas serta elektabilitas masing-masing calon di setiap daerah berbeda. Namun tulisan ini hanya sekedar obrolan biasa. Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan manfaat dan pencerahan bagi semua pihak yang memiliki kepentingan. Dan sekali lagi ini bukan satu-satunya sumber referensi memangkan pemilukada. Karena masih banyak cara selain yang belum secara detail diungkapkan dalam tulisan. Kepada masyarakat jangan memilih pemimpin seperti kucing dalam karung. 

Karena salah dalam memilih, akan merugikan rakyat selama lima tahun mendatang. Bagi masyarakat Kabupaten Majalengka sebagai tempat kelahiran penulis, selamat bertarung para jagoan. Siapapun nanti yang terpilih, dialah pemimpin pilihan rakyat yang harus kita taati segala perintahnya, selama berada dalam koridor yang tidak salah. Bagi pemimpin terpilih, jadilah imam yang mampu mengayomi serta mensejahterakan masyarakat dari jurang kemiskinan. Semoga.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.kabar-cirebon.com/kunci-dasar-memenangkan-pilkada_5528fbbd6ea834896c8b45b4